Sri Asoka Wardini (64 Tahun)

Kini Tak Lagi Berteriak-Teriak
“Ekspresi Wajahnya Segar Dan Mampu Merespons Pembicaraan Orang Lain”

Tahitian Noni ® Bioactive Beverage Original ™ Solusi Herbal Alami

Riwayat depresi Sri bersumber dari setumpuk kekecewaan yang dipendamnya. Saat Ia masih kecil, Ibu Sri mendidiknya dengan keras, bahkan terkadang main tangan. Menjelang dewasa Sri jatuh hati pada seorang pria, namun Ibunya tak setuju. Dengan hati hancur, Ia meninggakan kampung halamannya di Bojonegoro dan pergi ke Jakarta. Di ibukota, Sri menikah dengan seorang pria yang menjanjikan kesejahteraan bila Sri mau menikahnya. Sayangnya, kenyataan yang di dapat tidak seperti yang dijanjikan.

Semua kekecewaan ini dipendam dipendam sendiri oleh Sri. Ia tak pernah membagi bebannya pada siapapun. Suatu hari, Ia meledak. Ia mulai sering berteriak-teriak sendiri, meskipun masih nyambung bila diajak mengobrol oleh orang. Pada tahun 2007, suaminya meninggal. Peristiwa ini rupanya membawa duka yang mendalam. Sejak itu, Ia hanya bisa bicara ‘waras’ selama lima menit. Selebihnya, Ia menceracau soal masa lalu. Ia juga mulai sering kabur dari rumahnya di Serpong karena ingin pergi ke rumah lamanya di Manggarai, masalahnya, Ia sering tersesat dan tak tahu jalan pulang.

Sekitar tahun 2008, Sri dibawa anaknya ke beberapa psikiater. Mereka memberi Sri obat penenang yang membuatnya lemas, mengantuk dan tidur seharian. Sri juga pernah mencoba berbagai pengobatan alternatif yang menggunakan pendekatan agama. Jenis pengobatan ini tak berhasil. Terakhir, putra Sri (Ratmoko) membawanya ke panti Rehabilitasi Mental di daerah Parung, Bogor.

Sri menghabiskan empat bulan di sana dengan biaya empat juta rupiah perbulan. “Ibu memang tidak lagi berteriak-teriak tapi anehnya refleksnya jadi lambat. Ia berjalan setapak-setapak dan bicaranya lambat. Rupanya, tempat itu memberikan obat dosis tinggi pada Ibu,” jelas Ratmoko.

Beberapa waktu setelah di pulangkan dari panti rehabilitasi, Sri tidak mampu berjalan. Selama dua hari, Ia tak bisa menggerakkan tangan dan kaki. Ekspresinya tampak kosong. Pada hari ketiga, Ia mulai bisa bicara sedikit, walau geraknya masih lambat. Saat itulah, seorang teman menelepon Ratmoko dan menawarinya TNBB (TAHITIAN NONI® Bioactive Beverage™). Ratmoko bertanya berkali-kali apakah TNBB mampu mengobati ibunya. “Teman saya menjawab, ‘Insya Allah’.

“Akhirnya pada Juli 2010, Sri mulai mengonsumsi TNBB, 60 ml, 4x perhari, kemudian diturunkan 30 ml, 4x perhari. Setelah tiga minggu, Ia menunjukkan perubahan. Ekspresi wajahnya segar dan mampu merespons pembicaraan orang lain. Ia juga sudah bisa berjalan.

Dulu, Sri harus dimandikan orang lain, tapi kini Ia bisa membuka baju, memakai handuk dan berjalan sendiri ke kamar mandi. Sejak pertengahan Agustus, Ia tak pernah lagi berteriak-teriak, tidurnya juga lebih nyenyak, tidak gelisah seperti dulu. Melihat perkembangan Ibunya, Ratmoko pun bisa bernapas lega….