dr. M. Furqaan Naiem, M.Sc., Ph.D

Perkembangan Luar Biasa dengan Tahitian Noni

Dua tahun lalu, selepas sholat Jum’at Saya dikejutkan oleh kabar bahwa putera pertama Saya, Rahmat, mengalami kecelakaan akibat terjatuh dari motor. Saya langsung menuju Rumah Sakit tempat putera Saya itu dibawa. Saya menyaksikan dia dalam keadaan terbaring tak sadar, keluar darah dari hidung, mulut dan kedua telinganya, kanan dan kiri. Bagian tubuh yang lain tidak tampak ada cedera. Dokter dan Perawat sibuk memberikan pertolongan pertama berupa bantuan pernafasan (pemberian oksigen dan melonggarkan jalan napas).

Saat Saya membersihkan (menghilangkan) darah pada telinga kanan putera Saya, tak lama kemudian terlihat ada darah segar lagi dari telinga itu. Saya sudah yakin, perdarahan dari telinga itu sebagai petanda bahwa dasar tengkorak putera Saya mengalami keretakan. Setahu Saya, tidak ada tindakan medis yang dapat mengatasi keretakan itu. Saat itu juga Saya tertegun dan merasa putera Saya akan segera mati dan meninggalkan Saya. Tiba-tiba terbersik dari hati Saya, saat itu langsung teringat bahwa ada Allah, Dia diatas segalanya. Kesembuhan bukan dari Dokter dan cara medis bukan jalan satu-satunya cara mendapatkan kesembuhan. Allah punya mukjizat atau cara luar biasa, dan Saya berharap dan yakin, Allah dapat berikan pula kepada putera Saya. Allah sudah tunjukkan mukjizatNya kepada Nabi Ibrahim yang tak hangus dibakar api oleh raja, Nabi Musa memukulkan tongkak untuk membelah Laut Merah agar dapat menyeberang saat diburu oleh Fir’aun, dan juga Nabi Yunus yang masih dapat hidup saat ditelan oleh ikan raksasa (besar).

Saat di rumah sakit ini pula Saya ketahui bahwa kecelakaan terjadi sekitar pukul 12 siang saat menjelang khutbah Jum’at. Putera Saya itu jatuh di jalan Fly Over masuk ke jalur berlawanan kemudian datang mobil Pick Up Suzuki menabrak pada bagian kepala dan menyeretnya. Putera Saya terkapar di tengah jalan, dikerumuni orang tapi tak ada yang berani mengangkatnya karena enggan direpotkan oleh urusan di kepolisian kelak. Beruntung, ada seorang pelintas yang melihat kerumunan itu kemudian berhenti pula. Pelintas inilah yang berani menolong dan membawanya ke Rumah Sakit. Semula, putera Saya tidak langsung diberi tindakan apa-apa sesaat setelah tiba di Rumah Sakit itu karena korban tak dikenal dan tak ada yang mau menanggung biayanya. Tapi atas tanggung jawab pelintas itu lagi, maka putera Saya diberikan pertolongan pernafasan.

Selanjutnya, Saya segera menghubungi Dokter Bedah Syaraf dan sepakat. Putera Saya dipindah ke rumah sakit lain untuk dilakukan pemeriksaan dan rencana operasi. Pada saat dilakukan CT Scan, di layar monitor terlihat area perdarahan pada area kedua telinga (bagian kanan dan kiri), hidung-mulut, dan juga pada area kepala bagian belakang (bagian otak kecil). Setelah semua pemeriksaan untuk operasi usai dilakukan, dokter ahli bedah syaraf menemui Saya dan menyampaikan bahwa keadaan putera Saya tidak menguntungkan, skor GCSnya hanya 4 (skor 3 berarti mati). Segera Saya jawab bahwa Saya meminta Dokter untuk melakukan operasi terhadap putera Saya dengan kemampuan terbaik dokter, Saya memang hanya berharap dan pasrah kepada yang diatas, Allah, sambil telunjuk kanan Saya menunjuk keatas. Alhamdulillah, ternyata dokter yang semula ragu melakukan operasi kemudian menjadi berani dan percaya diri bertindak. Tak lama kemudian, putera Saya didorong masuk ruang operasi. Sayapun menuju kamar inap untuk shalat mohon bantuan Allah SWT untuk keberhasilan tindakan operasi atas putera Saya sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.

Alhamdulillah, sekitar jam 20 malam, tindakan operasi atas putera Saya selesai, berjalan lancar tanpa kesulitan. Selanjutnya, putera Saya di rawat di ICU. Saat di ruang ICU-lah Saya mulai memberikan putera Saya Tahitian Noni Juice, atas izin dokter. Saya memberikannya melalui selang dari mulut sebanyak 2 x 10cc, 2 hari kemudian mulai ada reaksi dari keadaannya yang masih tidak sadar. Saya seorang dokter, biasa menggunakan obat-obatan medis tetapi karena Noni adalah herbal maka Saya berani gunakan pada saat masih di ICU itu. Pada saat keluar ruang ICU, Saya beri Noni terus dan keadaannya semakin baik, namun belum bisa bicara tapi sudah sadar. Saat dokter sudah memperbolehkan pulang, Saya tidak langsung membawa pulang anak Saya, tetapi Saya membawanya ke Rumah Sakit lain untuk melakukan fisioterapi. Saya meningkatkan takaran Noni yang diberikan menjadi 3 x 10cc dan ternyata perkembangannya lebih bagus lagi. Obat-obatan tetap Saya berikan, tetapi perkembangannya tidak signifikan.

Akhirnya, Saya memutuskan untuk meningkatkan lagi takaran Noni agar mendapatkan hasil yang lebih signifikan, dan ternyata itu keputusan yang tepat. Dia tak merasa sakit lagi saat meluruskan tangannya yang sebelumnya masih terasa sakit walaupun telah dibantu dengan obat-obatan dan suntikan botox. Sekarang, Saya menjadi lebih mudah merawat putera Saya dengan peningkatan takaran itu.

Semenjak terdapat perubahan signifikan Saya menetapkan untuk meningkatkan lagi takarannya dan yang semula Saya memberikan Tahitian Noni Juice Original, kini Saya memberikan Maxidoid sebanyak 5 x 60 cc/hari. Kini kondisinya semakin mengalami kemajuan. Dia sudah aktif mengajak orang lain bicara, aktif mengemukakan keinginannya, bisa membaca, menggerakkan tangan, kepala dan leher sudah bisa tegak bahkan bisa melakukan gerakan-gerakan shalat secara mandiri. Responsnya juga semakin cepat, saat menerima telp maka dia dapat berkomunikasi spontan.

Saya sadar bahwa Saya harus sabar mengawal pengobatan herbal putera Saya. Saya harus siap akan berjalan lama karena pokok gangguan ada pada syaraf pusat (kepala) yang oleh dunia medis dikenal sebagai sel-sel yang paling lambat regenerasinya (pemulihannya). Saya menyadari perbaikan harus terjadi pada bagian kepala yang menjadi pusat dari permasalahannya. Setiap ada kemajuan pergerakan tubuh maka itu berarti terjadi pula perbaikan di bagian pusat permasalahan itu.

Saya bersyukur dan berterima kasih telah diperkenalkan dengan Morinda, sehingga anak saya bisa lebih terbantu pemulihannya pasca kecelakaan yang hampir merenggutnya nyawanya dua tahun yang lalu.